Nilai-nilai Pendidikan dalam Al-Qur’an Perspektif Linguistik

Widyaiswara Muda pada Balai Diklat Keagamaan Padang

by

Fahrul Usmi, SIQ, M.Ag

Abstrak

Al-Qur’an ditinjau dari sudut pandang kebahasaan (linguistik), memiliki susunan kata-kata yang sangat indah dan seimbang. Keindahan bahasanya menjadi mukjizat tersendiri bagi kitab suci ini. Jika digali dan dianalisa secara mendalam menggunakan ilmunya, ditemukan berbagai nilai yang bermanfaat dari aspek kebahasaan dimaksud. Di antara nilai yang bisa diungkap adalah nilai-nilai pendidikan. Pada saat al-Qur’an memilih kata ganti dan kata penunjuk yang dipakai, secara kebahasaan itu bukanlah sebuah kebetulan, akan tetapi sengaja difirmankan oleh Yang Maha Kuasa seperti itu.

Misalnya ketika Allah bercerita tentang Adam di dalam syurga, 1). Allah katakan kepada adam untuk tinggal di dalam syurga dan silahkan menikmati seluruh pasilitasnya, namun jangan dekati pohon ini. 2). perkataan Allah kepada Adam ketika larangan-Nya dilanggar oleh Adam disebabkan termakan bujuk rayu iblis, Allah berkata ; “bukankan sudah aku larang engkau untuk mendekati pohon itu?”. Untuk menunjuk barang/benda yang sama, Allah SWT menggunakan kata ganti yang berbeda. Apa artinya; di dalam syurga, Adam dan Isterinya sangat dekat dengan Allah dan Allah pun dekat dengan mereka sehingga digunakan kata penunjuk dekat (haadzihi), akan tetapi Adam dan isterinya melanggar larangan Allah, maka pelanggaran menyebabkan manusia menjauh dari rahmat Allah dan Allah pun menjauh dari manusia, sehingga saat itu digunakan kata penunjuk jauh (tilkuma).. Wallahu ‘a’lam bi al-shawwab

Kata Kunci: al-Qur’an, linguistik dan nilai-nilai pendidikan

 

Pendahuluan

Sudah menjadi keyakinan umat Islam bahwa al-Qur’an merupakan firman Allah SWT yang mutlak benar dan tetap eksis sepanjang zaman. Al-Qur’an berbicara tentang berbagai hal yang merupakan pokok-pokok ajaran Tuhan dan berkaitan langsung dengan hajat hidup orang banyak. Namun demikian, Abuddin Nata menulis bahwa al-Qur’an bukanlah kitab suci siap pakai, artinya berbagai konsep yang dikemukakan al-Qur’an belum langsung dapat dihubungkan dengan berbagai masalah dimaksud. (Abuddun Nata, 2002 : 2). Sungguhpun al-Qur’an berbicara tentang banyak hal; seperti masalah ketuhanan, namun al-Qur’an bukanlah buku theologi, al-Qur’an memang berbicara tentang sejarah umat terdahulu, namun dia bukanlah buku sejarah dan al-Qur’an juga berbicara tentang pendidikan, namun dia bukan pula buku pendidikan dan seterusnya.

Menyikapi persoalan-persoalan di atas, diperlukan upaya yang sungguh-sungguh dari para ahli untuk memberikan penjelasan terhadap masalah tersebut sebagai langkah awal untuk memudahkan umat dalam memahami ajaran al-Qur’an. Apalagi, jika dilihat dari aspek kebahasaan serta keindahan untaian ayat-ayatnya akan dirasa semakin sulit. M. Quraish Shihab menulis bahwa tidak mudah untuk menjelaskan keindahan bahasa al-Qur’an bagi yang tidak memiliki rasa bahasa dan pengetahuan tentang tata bahasanya. (M. Quraish Shihab, 1997 : 131).

Keindahan bahasa ini di satu sisi merupakan kemukjizatan al-Qur’an yang sulit ditandingi, namun di sisi lain menjadi bahan kajian yang menantang untuk dikupas. Salah satu aspek yang menarik untuk diulas adalah dari aspek linguistik, karena dari perspektif ini alqur’an mengandung beberapa nilai pendidikan yang sangat baik dan berguna untuk direnungkan dalam rangka membentuk akhlakul karimah. Oleh karenanya dengan segenap daya upaya, penulis tertarik untuk menyajikan sekelumit tulisan tentang nilai-nilai pendidikan dalam al-Qur’an ini ditinjau dari perspektif linguistik.

 

Al-Qur’an dan Linguistik

Tidak dapat disangkal bahwa ayat-ayat al-Qur’an tersusun dengan kosa kata bahasa Arab. Usman bin Jinni (932-1002) seperti dikutip M. Quraish Shihab menjelaskan bahwa pemilihan huruf-huruf kosa kata bahasa Arab tersebut bukanlah suatu kebetulan, tetapi mengandung keistimewaan dan falsafah bahasa tersendiri. (M. Quraish Shihab, 1997 : 90). Keistimewaan bahasa Arab juga disebabkan oleh adanya i’rab. Yang dimaksud dengan i’rab adalah perubahan akhir suatu kata dalam suatu kalimat yang disebabkan oleh perbedaan faktor (‘amil) yang menyertainya. Keunikan lain dari bahasa Arab adalah banyaknya kata-kata ambigu dan tidak jarang satu kata mempunyai dua atau tiga arti yang berlawanan.

Sementara itu, linguistik adalah ilmu tentang bahasa. Bisa disebut ilmu karena mendasarkan diri pada fakta yang bersifat empiris, dengan objeknya yakni bahasa. Yang dimaksud bahasa disini adalah seperangkat aturan dan sistem yang diucapkan atau dituliskan manusia sebagai alat komunikasi. Bahasa ini dibentuk berdasarkan konvensi antar manusia tanpa direncanakan dan pada perkembangan selanjutnya diberi nama dan distandarkan juga kadang dibentuk.

Dalam bahasa Arab, linguistik disebut ilmu lughah. Pada mulanya kata ilmu lughah tidak digunakan dengan makna linguistik atau kajian bahasa. Kata ilmu lughah pertama kali digunakan oleh Ibnu Khaldun dalam karyanya Al-Muqaddimah dan dimaksudkan sebagai ilmu ma’ajim atau lexicology. (Riung Sastra, 2010 : 1). Paling tidak ada empat tataran dalam kebahasaan (linguistik), yaitu fonologi (makhrajul huruf), morfologi (ilmu sharaf), sintaksis (ilmu nahwu), dan semantik/makna (ilmu balaghah). Fonologi adalah bidang linguistik yang mempelajari, menganalisis, dan membicarakan runtutan bunyi-bunyi bahasa. Morfologi adalah bidang linguistik yang mempelajari dan menganalisis perubahan kata dalam bahasa. sedangkan sintaksis adalah bidang linguistik yang mempelajari dan menganalisis hubungan kata dengan kata lain, atau unsur-unsur lain sebagai suatu satuan ujaran. Dan yang terakhir adalah semantik yang merupakan bidang linguistik yang mempelajari dan menganalisis makan kata

Nilai-nilai Pendidikan dalam al-Qur’an Perspektif Linguistik

Ditinjau dari empat tataran dalam kebahasaan di atas yaitu morfologi (ilmu sharaf), sintaksis (ilmu nahwu) dan semantik (ilmu balaghah) banyak ayat yang berbicara tentang itu. Disebabkan karena keterbatasan ruang dan lainnya, uraian akan difokuskan pada satu aspek saja yaitu ilmu nahwu (sintaksis).

Sintaksis adalah bidang linguistik yang mempelajari dan menganalisis susunan kata, struktur kalimat, perubahan jabatan kata (i’rab al-kalimat) dan lain-lain. Salah satu tema penting yang dibicarakan dalam ilmu nahwu (sintaksis) adalah masalah pemakaian kata ganti (dhamir) dan yang sejenisnya. Pemakaian dan pemilihan dhamir di dalam berbagai ayat al-Qur’an sepintas tampak tidak ada yang istimewa dan biasa-biasa saja, namun jika dipelajari dan dianalisis secara seksama akan ditemukan makna yang sangat dalam yang sarat dengan nilai-nilai pendidikan. Hal tersebut dapat ditemukan pada uraian ayat-ayat al-Qur’an berikut ini :

1. وَمَا أَنْفَقْتُمْ مِنْ شَيْءٍ فَهُوَ يُخْلِفُهُ وَهُوَ خَيْرُ الرَّازِقِينَ

Artinya : Dan apa saja yang kamu nafkahkan, maka Dia akan menggantinya dan Dialah Pemberi rezki yang sebaik-baiknya. (Q.S. Saba’ : 39)

Ringkasan dari ayat di atas menjelaskan bahwa apa saja yang dinafkahkan/diinfakkan oleh seseorang akan diganti oleh Allah SWT. Di dalam ayat tersebut terdapat kata ganti (dhamir) هُوَ yang dipakai untuk menerangkan siapa yang akan mengganti pemberian tersebut. Pada beberapa tafsir dijelaskan bahwa Allah yang akan mengganti infaq/pemberian tersebut, namun redaksi al-Qur’an tidak memakai kalimat “Allah” tetapi menggantinya dengan dhamirhuwa” yang secara kebahasaan mengandung makna orang ketiga tunggal, bahwa tidak hanya Allah yang akan mengganti sesudahnya, mungkin orang yang dibantu atau pihak lain. Akan sulit dipahami oleh manusia jika ayat tersebut secara tegas menggunakan kalimat “Allah”, karena secara langsung kadang-kadang balasan tersebut memang diterima oleh yang berinfak dan berderma dari orang lain atau sumber lain, bukan langsung dari Allah SWT.

Nilai-nilai pendidikan yang terkandung dalam ayat di atas adalah bahwa seseorang jangan terlalu pelit dan berpikir panjang untuk membantu orang lain, berinfaq/bersedekah dan semacamnya, karena balasan dari perbuatannya itu akan datang dari berbagai pintu dan sumber (dari Allah SWT, dari orang yang dibantu atau melalui orang lain).

2. وَلَوْ شِئْنَا لَآتَيْنَا كُلَّ نَفْسٍ هُدَاهَا وَلَكِنْ حَقَّ الْقَوْلُ مِنِّي لَأَمْلَأَنَّ جَهَنَّمَ مِنَ الْجِنَّةِ

وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ

Artinya : Dan kalau Kami menghendaki niscaya Kami akan berikan kepada tiap-tiap jiwa petunjuk (bagi) nya, akan tetapi telah tetaplah perkataan (ketetapan) daripadaku; “Sesungguhnya akan aku penuhi neraka jahannam itu dengan jin dan manusia bersama-sama. (Q.S. As-Sajadah: 13)

Dari sisi kehalusan berbahasa, dalam ayat di atas terdapat iltifat yaitu perpalingan dari satu kata ganti ke kata ganti yang lain, karena ada makna yang hendak dituju. Pada penggalan awal ayat tersebut, Allah menggunakan kata ganti “kami”, namun diakhir ayat Allah menggunakan kata ganti “aku”. Menurut M. Quraish Shihab, hal ini menunjukkan keakuan Allah, bahwa tidak ada campur tangan siapapun dalam hal penentuan sebuah ketetapan Allah SWT. (M. Quraish Shihab, 2002; 192).

Nilai-nilai pendidikan yang terkandung dalam ayat di atas adalah bahwa untuk perolehan petunjuk dan hidayah Allah SWT banyak unsur yang bisa berperan, akan tetapi keputusan akhir nasib seseorang Allah sajalah penentunya.

3. وَقُلْنَا يَاآدَمُ اسْكُنْ أَنْتَ وَزَوْجُكَ الْجَنَّةَ وَكُلَا مِنْهَا رَغَدًا حَيْثُ شِئْتُمَا وَلَا تَقْرَبَا هَذِهِ الشَّجَرَةَ فَتَكُونَا مِنَ الظَّالِمِينَ

Artinya : Dan Kami berfirman: “Hai Adam diamilah oleh kamu dan isterimu surga ini, dan makanlah makanan-makanannya yang banyak lagi baik di mana saja yang kamu sukai, dan janganlah kamu dekati pohon ini, yang menyebabkan kamu termasuk orang-orang yang zalim. (Q.S. al-Baqarah: 35)

 

وَنَادَاهُمَا رَبُّهُمَا أَلَمْ أَنْهَكُمَا عَنْ تِلْكُمَا الشَّجَرَةِ وَأَقُلْ لَكُمَا إِنَّ الشَّيْطَانَ لَكُمَا عَدُوٌّ مُبِينٌ

Artinya : Kemudian Tuhan menyeru mereka: “Bukankah Aku telah melarang kamu berdua dari pohon kayu itu dan Aku katakan kepadamu: “Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi kamu berdua?” (Q.S. al’A’raf : 21).

 

Perhatikan dua ayat pada dua surat berbeda di atas, di mana dalam dua ayat tersebut ditemukan dua kalimat yang hampir sama yang menunjukkan tentang sebuah pohon larangan. Ayat pertama dengan ungkapan هَذِهِ الشَّجَرَةَ dan ayat kedua dengan ungkapan تِلْكُمَا الشَّجَرَةِ.

Apabila dicermati, kedua-duanya bercerita tentang penjelasan Allah kepada Adam di dalam syurga, pertama; Allah katakan kepada adam untuk tinggal di dalam syurga dan silahkan menikmati seluruh pasilitasnya, namun jangan dekati pohon ini. Kedua; perkataan Allah kepada Adam ketika larangan-Nya dilanggar oleh Adam disebabkan termakan bujuk rayu iblis, Allah berkata ; “bukankan sudah aku larang engkau untuk mendekati pohon itu?”.

Penggunaan isim isyarat (kata penunjuk) yang berbeda untuk benda yang sama bukanlah sebuah kebetulan atau kesalahan akan tetapi memiliki maksud yang sangat jelas. Di dalam tafsir al-Misbah, M. Quraish Shihab menjelaskan bahwa sebelum Adam dan Isterinya melanggar larangan tersebut, mereka sangat dekat dengan Allah dan Allah pun dekat dengan mereka sehingga digunakan kata penunjuk dekat (haadzihi), akan tetapi pelanggaran menyebabkan manusia menjauh dari rahmat Allah dan Allah pun menjauh dari manusia, sehingga saat itu digunakan kata penunjuk jauh (tilkuma). (M. Quraish Shihab, 2002; juz V, 51).

Nilai-nilai pendidikan yang terkandung dalam ayat di atas adalah bahwa pelanggaran terhadap aturan-aturan Allah SWT menyebabkan Allah dan rahmat-Nya menjauh dari seseorang, atau dengan kata lain bahwa Allah tidak akan dekat dengan orang yang suka melanggar aturan-aturanNya dan berbuat dosa.

Kesimpulan

Berdasarkan uraian ringkas di atas, dapat disimpulkan bahwa ditinjau dari aspek kebahasaan (linguistik) al-Qur’an sarat dengan nilai-nilai pendidikan, misalnya saja ketika menggunakan kata ganti (dhamir) dan kata penunjuk (isim isyarat) seperti diuraikan di atas yang dapat disimpulkan sebagai berikut ;

1. Melalui kata ganti “huwa” di dalam ayat poin pertama didapatkan pelajaran bahwa jangan terlalu pelit dan banyak alasan untuk membantu orang, berinfaq/bersedekah dan semacamnya, karena balasan dari perbuatannya itu akan datang dari berbagai pintu dan sumber.

2. Banyak upaya yang bisa dilakukan manusia untuk mendapatkan hidayah dan petunjuk Allah, akan tetapi kata akhir (keputusan) tentang apa saja mutlak ditangan-Nya.

3. Pelanggaran terhadap aturan-aturan Allah SWT menyebabkan Allah menjauh dari seseorang, Allah tidak akan dekat dengan orang yang suka melanggar aturan-aturanNya. Ini terlihat jelas ketika kata penunjuk (isim isyarat) dekat berubah menjadi kata penunjuk jauh terhadap benda yang sama. Wallaahu ‘a’lam

 

DAFTAR PUSTAKA

Baidan, Nasruddin, Keitimewaan al-Qur’an Perspektif Linguistik : (Makalah pada Kuliah Umum STAIDA Payakumbuh Sumbar).

Hidayat, D. Balaghah Untuk Semua, Jakarta : PT. Karya Toha Putra, t. Th.

http://zoelfansyah.blogspot.com/2008/06/bahasa-al-quranantara-linguistik-dan.html. Diakses tgl. 7 agustus 2012 jam 16.00 wib

http://riungsastra.wordpress.com/2010/09/23/klausa-dalam-bahasa-indonesia-dan-arab. Diakses tanggal 8 Agusus 2012

Nata, Abuddin, Tafsir Ayat-ayat Pendidikan; Tafsir al-Ayat at-Tarbawiy, Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada, 2002

Shihab, M. Quraish, Mukjizat al-Qur’an ditinjau dari Aspek Kebahasaan, Isyarat Ilmiyah dan Pemberitaan Alam Ghaib, Bandung, Mizan, 1997

……….., Tafsir al-Mishbah; Pesan, kesan dan keserasian al-Qur’an, Jakarta, Lentera Hati, 2002

Leave a Response

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*