TRADISI MAMAKIAH DAN DAMPAKNYA TERHADAP INTERNAL DAN EKSTERNAL KELEMBAGAAN PONDOK PESANTREN

TRADISI MAMAKIAH DAN DAMPAKNYA TERHADAP INTERNAL DAN EKSTERNAL KELEMBAGAAN PONDOK PESANTREN

 

NIIMMASUBHANI

 

Abstract

 

This article discusses about the influence of mamakiah on the internal dan exsternal institution of boarding school Pondok Pesantren Nurul Yaqin Ringan-ringan Pakandangan Kabupaten Padang Pariaman.This problem is based by the different interpretation on the hadits of shadaqah. According to several modernists, those hadits prohibit begging activities including mamakiah. In fact, however, there are some boarding schools still assign their students to collect fund by begging or mamakiah. Actually, there are some reasons why they ask their students to do that. The first one is due to the students’ financial problem. Next, the tradition is regarded phylosophical values like; sufistic, da’wah, and psychological values.This research is purposed to : (1)to know the nature and short history of mamakiah, (2) to explain about the form, technique, and phylosophy, (3) to study the effect of mamakiah on the internal institution of Pondok Pesantren Nurul Yaqin, and (4) to tell the effect of mamakiah on the external institution Pondok Pesantren Nurul Yaqin.

 

Key Words : tradisi mamakiah, dampak, pondok pesantren

 

Pendahuluan

Latar belakang masalah

Pondok pesantren sebagai lembaga pendidikan dan social keagamaan, dan kemasyarakatan, dapat dikatakan sebagai tulang punggung pembangunan, khususnya dalam pembangunan mental dan keagamaan, serta merupakan kegiatan social yang selalu memantau keadaan dan perkembangan masyarakat untuk melakukan pembebasan pada masyarakat dari segala penindasan, kebobrokan moral, kemiskinan ilmu pengetahuan. Dengan kata lain, pondok pesantren merupakan wadah transformasi nilai dengan ciri-ciri amar ma’ruf nahi mungkar.

Seiring dengan arti pesantren sebagai lembaga pendidikan social, keagamaan atau pusat pengembangan ajaran Islam, Pondok Pesantren Nurul Yaqin di Kabupaten Padang Pariaman Propinsi Sumatera Barat tidak ketinggalan dalam memainkan perannya yang telah membuktikan dirinya sebagai motivator, inovator dalam pembangunan generasi masyarakat.

Pesantren dengan segala karakternya yang khas semakin memberikan gambaran betapa sulit untuk mengetahui secara pasti tentang asal usul pesantren. Tradisi pesantren tidak mungkin bisa digeneralisir, mengingat hampir seluruh pesantren memiliki karakteristik yang berakar dari sejarahnya masing-masing.[1]

Dari berbagai tradisi yang ada di pondok pesantren, di Pondok Pesantren Nurul Yaqin terdapat tradisi yang unik dan menarik untuk dikaji dan berbeda dengan tradisi-tradisi pesantren lain. Tradisi yang penulis maksud adalah tradisi mamakiah[2]. Kegiatan mamakiah dilakukan oleh sebahagian santri Pondok Pesantren Nurul Yaqin Ringan-ringan Pakandangan. Dari observasi awal [3] penulis memperhatikan beberapa kali pagi, sekitar pukul 06.00, setiap hari Kamis dan Jum’at santri sibuk keluar menuju nagari-nagari tertentu untuk mamakiah, seperti ke daerah sekitar Kabupaten Padang Pariaman, bahkan sampai ke luar Kabupaten, seperti Padang, Pesisir, Padang Panjang, Batu Sangkar, dan lain-lain.

Pada dasarnya mamakiah merupakan salah satu sarana dakwah bagi santri pondok pesantren selain sebagai pelatihan mental dan tambahan biaya bagi mereka.[4]Namun penulis belum menemukan literature yang secara langsung menyebutkan mamakiah sebagai sarana dakwah, seperti literature yang ditulis oleh Ampera Salim, Di sini dijelaskan bahwa santri di pondok pesantren Darul “Ulum Padang Magek, diberikan waktu dua hari seminggu (Kamis dan Jum’at) untuk melakukan mamakiah sebagai sumber kehidupan.[5]Hanya saja hal ini sesuai bila ditinjau latar belakang kemunculan pondok pesantren seperti yang diungkapkan Endin Mujahidin yaitu untuk mempersiapkan kader-kader da’i yang akan menyebarkan ajaran Islam di tengah-tengah masyarakat.[6] Pondok Pesantren Nurul Yaqin Ringan-ringan Pakandangan melatih santrinya untuk berdakwah. Banyak kegiatan dakwah yang dilakukan di pondok pesantren ini, seperti mudzakarah, muhadarah, termasuk mamakiah yang dilakukan ke rumah-rumah masyarakat.

Beberapa kalangan dari masyarakat modern, ada yang memandang kegiatan mamakiah sebagai tindakan meminta-minta. Mereka menanggapi negatif kegiatan mamakiah ini. Pendapat mereka berdasarkan lafadz hadits Rasulullah Muhammad Saw sebagai berikut:

وحَدَّثَنِي عَنْ مَالِك عَنْ نَافِعٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ وَهُوَ عَلَى الْمِنْبَرِ وَهُوَ يَذْكُرُ الصَّدَقَةَ وَالتَّعَفُّفَ عَنْ الْمَسْأَلَةِ الْيَدُ الْعُلْيَا خَيْرٌ مِنْ الْيَدِ السُّفْلَى وَالْيَدُ الْعُلْيَا هِيَ الْمُنْفِقَةُ وَالسُّفْلَى هِيَ السَّائِلَة[7]

Artinya:

“dan telah akuceritakan dari Malik dari Nafi’, dari ‘Abdillah ibn umar, sesungguhnya Rasulullah SAW telah bersabda ketika beliau di atas mimbar, beliau mengingatkan agar bersedekah dan menjauhkan diri dari permasalahan. Tangan di atas lebih baik dari tangan di bawah. Tangan di atas adalah yang memberi nafkah ” dan tangan di bawah adalah “Assaailah” (yang menerima)” (H.R. Imam Malik).

Dalam hadits lain juga di temukan sebagai berikut:

عَنْ حَكِيمِ بْنِ حِزَامٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهعَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ الْيَدُ الْعُلْيَا خَيْرٌ مِنْ الْيَدِ السُّفْلَى[8]

Artinya:

“Dan dari Hakim ibn Hizam r.a, dari Nabi SAW. Rasul bersabda tangan di atas lebih baik dari tangan di bawah ” (Mutafaqun “alaih, lafadz dari Bukhari)

 

Kata اليد العلياditafsirkan yadu al-Mu ‘thi atau tangan yang memberi, dan اليدالسفلى ditafsirkan yadu al-saailah atau yang meminta, namun ada juga yang menafsirkan يدالأاخذلغيرسؤالdan menurut orang tasawuf اليدالسائلة ditafsirkan denganاليدالأخذةافضل من المعطيةمطلقا

Menurut penulis pendapat kedua ini yang dijadikan pedoman bagi santri yang melakukan kegiatan mamakiah. Mereka bukan meminta, tetapi menolong orang yang memiliki kelebihan harta untuk bersedekah. Dalam hal ini mereka melakukan kegiatan dakwah.

Dalam melakukan kegiatan mamakiah ini, tak jarang juga santri tersebut yang mendapat ocehan, hinaan, makian bahkan ada yang diusir ketika sampai di depan rumah masyarakat yang menanggapi negatif kegiatan ini. Selain berpengaruh terhadap mental, tradisi mamakiah ini juga mempunyai nilai sufistik. Hal ini ditandai dengan adanya santri yang melakukan kegiatan mamakiah, juga ada santri yang tidak mau melakukan kegiatan ini (karena merasa terhina).[9] Bagi yang melakukan kegiatan ini agaknya mereka tidak merasakan perbuatannya negatif, bahkan mereka tetap tawadhu’ dengan keadaan mereka.

Beberapa permasalahan di atas agaknya dapat dijadikan sebagai bahan penelitian karena dari observasi penulis terhadap santri yang datang ke rumah, ada yang mengucapkan salam, lalu mengucapkan “basadakah lah mak / nf (bersedekahlah, Buk/Mbak). Jadi menurut penulis, mereka bukan meminta sedekah, tetapi menganjurkan orang bersedekah. Hal inilah yang menurut penulis mamakiah juga merupakan sarana dakwah bagi santri selain sebagai pelatihan mental dan membantu memenuhi kebutuhan mereka. Selain itu Allah juga telah menjelaskan dalam al-Qur’an surat adh-Dhuha ayat 10 yang berbunyi:

وَأَمَّا السَّائِلَ فَلَا تَنْهَرْ

Artinya:

“dan   terhadap   orang   yang   minta-minta,   janganlah   kamu menghardiknya “.

Kata السائلmenurut penjelasan Shawi dalam tafsir Jalalain artinyaطلب العلم Muliakan dia dan jangan bermuka masam. Jadi Allah telah jelas-jelas melarang. Kata    تنهرmaksudnya dengan cara memberi makan, ataumenolaknya dengan cara lemah lembut. Hubungannya dengan ayat sebelumnya عائلا فاغني, maksudnya Allah menyuruh hambanya untuk berbagidengan sesama sebagaimana Allah telah memberi kekayaan.

Berdasarkan tafsiran ayat di atas, dapat dipahami bahwa kegiatan mamakiah merupakan suatu perbuatan positif dan menjadi penting dilakukan oleh santri yang sedang menimba ilmu pengetahuan agama. Dengan mamakiah, mereka (para santri yang mamakiah) telah membantu memudahkan masyarakat yang akan memberikan sedekah (beramal).

 

Identifikasi masalah

  1. Gambaran umum Pondok Pesantren Nurul Yaqin
  2. Bentuk, tata cara dan filosofi yang terkandung di dalamnya
  3. Dampak tradisi mamakiah terhadap internal kelembagaan pesantren Nurul Yaqin
  4. Dampak tradisi mamakiah terhadap ekternal kelembagaan pesantren Nurul Yaqin

 

Rumusan masalah

Dari latar belakang yang penulis paparkan di atas, maka yang menjadi rumusan masalah dalam penelitian ini adalah : Bagaimana Tradisi Mamakiah dan Dampaknya Terhadap Internal dan Eksternal Kelembagaan Pondok Pesantren Nurul Yaqin Ringan-Ringan Pakandangan Kabupaten Padang Pariaman?

 

Tujuan penelitian

1)  Untuk mengungkapkan bentuk, tata cara, dan filosofi yang terkandung di dalamnya

2)    Untuk mengetahui dampak tradisi mamakiah terhadap internal kelembagaan pesantren Nurul Yaqin

3)    Untuk mengetahui dampak tradisi mamakiah terhadap eksternal kelembagaan pesantren Nurul Yaqin

Penelitian ini diharapkan memiliki kegunaan secara teoritis dan praktis. Kegunaan secara teoritis adalah untuk mengetahui tradisimamakiah yang dilakukan santri pondok pesantren Nurul Yaqin. Sedangkan kegunaan secara praktis dari penelitian ini adalah :

1)    Sebagai sumbangan ilmiah bagi pemahaman aspek-aspek tertentu dalam sejarah sosio-kultural tradisional di Minangkabau baik dalam bentuk pengayaan informasi faktual maupun sebagai sumbangan pengetahuan teoritis dan pendidikan Islam secara umum

2)    Mengisi kekurangan khazanah penulisan tentang pendidikan Islam serta kaitannya dengan sejarah sosio-kultural tradisional di Minangkabau

3)    Sebagai masukan bagi dunia pendidikan Islam umumnya, khususnya bagi pondok pesantren yang ada di kabupaten Padang Pariaman, terutama dalam mengambil sisi positif yang terdapat pada tradisi mamakiah.

4)    Memenuhi syarat dalam penerbitan surat keputusan jabatan fungsional dosen.

 

Pembahasan

Metodologi Penelitian

1. Jenis dan Sifat Penelitian

Penelitian yang penulis lakukan adalah penelitian lapangan (field research), yaitu penelitian yang dilakukan di suatu lokasi, ruang yang luas atau tengah-tengah masyarakat.[10] Penulis mengadakan penelitian di pondok pesantren Nural Yaqin Ringan ringan Pakandangan Kabupaten Padang Pariaman.

Penelitian ini dimaksudkan untuk menghasilkan data deskriptif; ucapan atau tulisan dan prilaku yang diamati dari orang-orang (subjek itu sendiri), dalam hal ini mendiskripsikan hal-hal yang berkenaan dengan tradisimamakiah yang dilakukan santri pondok pesantren Nurul Yaqin, dan filosofis yang terkandung di dalamnya. Penelitian ini bersifat kualitatif. Data yang diperoleh melalui literatur dan hasil observasi dianalisa dan dikompromikan secara kritis untuk selanjutnya dideskripsikan secara naratif. Dalam penelitian ini menurut Nasution[11] pendekatan naturalistic dipandang cocok untuk digunakan, dengan alasan bahwa data tentang gejala-gejala yang diperoleh di lapangan lebih banyak menyangkut perbuatan dan ucapan responden.Dengan pendekatan ini penulis berusahamemahami   bagaimana   tradisi mamakiah   dan   dampaknyaterhadap internal dan eksternal kelembagaan pondok pesantren Nurul Yaqin serta filosofis yang terkandung di dalamnya.

2. Latar Penelitian

Penelitian ini dilakukan di Pondok Pesantren Nurul Yaqin Ringan-ringan Pakandangan Kabupaten padang Pariaman, dan rumah-rumah penduduk di sekitar lingkungan pondok pesantren.

3.  Sumber Data

Sumber data (responden) dalam penelitian ini tidak menggunakan istilah populasi dengan jumlah frekuensi yang bisa ditetapkan sebelumnya. Sumber data bisa bertambah terus sesuai dengan kebutuhan penelitian. Inilah yang disebut dengan istilah snowball sampling?[12]Sumber data (informan) dalam penelitian ini adalah pimpinan, majelis guru, santri     Pondok     Pesantren    Nurul     Yaqin     Ringan-ringan Pakandangan, dan masyarakat di sekitarnya.

  1. Teknik Pengumpulan Data

Dalam penelitian ini penulis menggunakan teknik pengumpulan data melalui:

a.Observasi atau pengamatan. Alasan penggunaan teknik observasi
adalah sesuai dengan yang dikemukakan oleh Moleong[13] Teknik ini
menurut penulis dapat membantu penulis melihat langsung
perilaku atau tradisi pondok pesantren itu sendiri, sehingga penulis dapat
mengidentifikasi dan merasakan hal-hal yang dirasakan oleh subjek
penelitian. Adapun hal-hal yang diobservasi dalam penelitian ini adalah
hal-hal yang berkaitan dengan tata cara mamakiah santri di pondok
pesantren Nurul Yaqin Ringan-ringan Pakandangan.

b.Wawancara, penulis melakukan wawancara terbuka dan dilakukan secaraface to face dalam kapasitas penulis selaku peneliti dengan pimpinan, majelis guru, santri/wati pondok pesantren Nurul Yaqin Ringan-ringan Pakandangan, masyarakat di sekitarnya. Adapun data-data yang penulis kumpulkan melalui wawancara terkait faktor-faktor yang melatarbelakangi lahirnya tradisi, filosofis yang terkandung di dalamnya serta dampak tradisi mamakiahterhadap santri, pimpinan, majelis guru, serta masyarakat.

c. Dokumentasi, penulis mengumpulkan informasi berupa data dokumen dan rekaman untuk memperoleh dan mengungkapkan data tentang pelaksanaan tradisi mamakiah santri di pondok pesantren Nurul Yaqin Ringan-ringan Pakandangan.

5. Teknik pengolahan dan analisa data

Data yang diperoleh melalui observasi dan wawancara akan disajikan secara verbal dengan menggunakan kalimat sederhana. Untuk mengolah dan menganalisa data yang diperoleh melalui wawancara, penulis memeriksa kembali data-data yang diperoleh secara cermat, yang relevan dengan tujuan penelitian. Untuk menghindarkan terjadinya kekeliruan dan kesalahan, data dikumpulkan untuk dikelompokkan sesuai dengan permasalahan dan dianalisis secara kualitatif dalam bentuk kalimat, kemudian diambil kesimpulan.

 

Hasil penelitian

Sejarah Ringkas Tradisi mamakiah

Pondok pesantren di Sumatera Barat, khususnya pondok pesantrendi Padang Pariaman, berawal dari pengajian surau. Lama kelamaan, surautempat pengajian dan pengajaran Islam di Padang Pariaman, sepertiUlakan semakin ramai.  Santri pun berdatangan dari berbagai daerahseperti Jambi dan Siak Indragiri. Untuk menampung mereka, di sekelilingsurau utama didirikan ratusan pondok. Di sini mereka akan tinggal selamabelajar.

Pada masa kejayaannya, dikisahkan bahwa murid-muridyang berasal dari Siak Indragiri punya kebiasaan berkelilingkampung setiap Kamis dan Jumat untuk meminta sedekahdaripenduduk. Itu mereka lakukan apabila kiriman dari orang tuanyadatang terlambatkarena perhubungan yang sulit. Biasanya orang-orang kampung memberi merekasedekah dengan sukarela. Sampaisekarang, di Pariaman, orang-orang yang mengaji di surau disebutdengan “siak”. Sedangkan kegiatan keliling mengumpulkansedekah disebut “mamakiah”7

Tradisi  semacam inilah yang terus menerus  dilakukan  santripondok pesantren tradisional di Padang Pariaman. Hingga sekarang punsantri pondok pesantren Nurul Yaqin masih ada mengikuti tradisi seperti mamakiah.

Berdasarkan penelitian penulis, pondok pesantren ini tergolong pondok pesantren komprehensif karena marupakan sistem pendidikan dan pengajaran gabungan antara yang tradisional dan modern. Artinya di dalamnya diterapkan pendidikan dan pengajaran kitab kuning dengan metode sorongan, bendongan, dan wetonan, Namun secara reguler sistem persekolahan terus dikembangkan. Bahkan pendidikan keterampilan pun diaplikasikan sehingga menjadikan berbeda dari tipe pertama dan kedua. Lebih jauh daripada itu pendidikan masyarakat pun menjadi garapannya, artinya pondok pesantren ini telah berkiprah dalam pembangunan sosial kemasyarakatan.

 

Fungsi Pondok Pesantren

Lembaga pendidikan pesantren yang berdiri di tengah-tengahmasyarakat memiliki fungsi sebagai berikut:

a.   Pondok pesantren sebagai lembaga pendidikan

Istilah “pesantren” sebagai suatu lembaga pendidikan Islam yang khas, masih tergolong baru memasyarakat dan digunakan oleh sejumlah lembaga pendidikan Islam di Sumatera Barat dalam beberapa dasawarsa terakhir. Walaupun awalnya dari pengajaran yang sederhana, pada akhirnya pesantren berkembang menjadi lembaga pendidikan yang diikuti oleh masyarakat, artinya pesantren juga memberikan pelajaran-pelajaran secara material maupun imaterial.

Menurut hemat penulis, pemahaman fungsi pondok pesantren sebagai lembaga pendidikan terletak pada kesiapan pesantren dalam menyiapkan diri untuk ikut serta dalam pembangunan di bidang pendidikan dengan jalan adanya perubahan sistem pendidikan sesuai dengan arus perkembangan zaman dan erat dengan teknologi secara global. Hal ini juga terlihat bahwa sistem pendidikan pondok pesantren terus menyesuaikan diri dengan lingkungan pendidikan dengan prinsip masih tetap dalam kawasan prinsip agama.

 

b.   Pondok pesantren sebagai lembaga dakwah

Sebenarnya secara mendasar, seluruh gerakan pesantren tidakterlepas dari kegiatan dakwah. Karena tujuan pendidikan pondokpesantren secara total adalah berdasar tujuan agama, yaitu menghasilkanmuslim yang berilmu, beriman, beramal dengan akhlak al-karimah.Kaberadaan pondok pesantren di tengah-tengah masyarakat adalah sebagaisuatu lembaga yang bertujuan menegakkan syari’at Islam sertamenyebarkan ajaran agama Islamagar pemeluknya memahami sertamengamalkan ajaran Islam secara kaffah. Hanya saja kegiatan pesantrensangat    beragam,     misalnya    kegiatan yang     menyangkut     social kemasyarakatan danIain-lain, namun tak dapatdipungkiri semuanyabertujuan unruk pengembangan agama.

Banyak cara yang dilakukan pesantren dalam mengembangkanaspek dakwah, seperti membentuk kelompok-kelompok pengajian bagimasyarakat. Hal ini bertujuan selain untuk mengkaji agama, juga sebagai media komunikasi melalui masyarakat. Di samping itu juga ada kegiatan dakwah melalui kegiatan masyarakat, misalnya kegiatan majelis ta’lim yang dipelopori oleh masyarakat sendiri (ibu-ibu, remaja Islam Masjid, dan Iain-lain). Hal ini juga tidak lepas dari pengembangan dakwah Islamiyah yang dilakukan pesantren.

Mencermati fungsi pesantren sebagai lembaga dakwah, menurut penulis wujud nyata dari dakwah pesantren adalah dakwah bilhal dan dakwah billisan. Misalnya, pesantren mewajibkan santrinya untuk mengabdi menjadi da’i baik untuk pesantren, maupun untuk masyarakat.

 

c.   Pondok pesantren sebagai lembaga sosial

Sudjoko Prasodjo menyebutkan jasa besar pesantren terhadapmasyarakat desa yaitu:

1)             Kegiatan tabligh kepada masyarakat yang dilakukan dalam komplekspesantren.

2)      Majelis ta’lim atau pengajian yang bersifat pendidikan kepada umum.

3)      Bimbingan hikmah berupa nasehat kyai kepada orang yang datanguntuk diberi amalan-amalan apa yang harus dilakukan untuk mencapai suatu hajat, nasehat-nasehat agama dan sebagainya.[14]

Kegiatan-kegiatan di atas cenderung dikategorikan sebagai kegiatan sosial keagamaan, namun juga yang dapat dimasukkan kedalam kegiatan dakwah. Dalam melakukan kegiatan tersebut berarti sudah melakukan 2 segi, yaitu dakwah dan pengembangan masyarakat.

Berdasarkan penjelasan di atas dapat dipahami bahwa, pondok pesantren sebagai lembaga pendidikan, dakwah, sosial keagamaan, dankemasyarakatan dapat dikatakan sebagai tulang punggung pembangunan, khususnya dalam pembangunan mental dan keagamaan, serta merupakankegiatan sosial yang selalu memantau keadaan dan perkembanganmasyarakat untuk melakukan pembebasan padamasyarakat dari segalapenindasan, kebobrokan moral dan kemiskinanilmu pengetahuan. Dengankata lain, pondok pesantren merupakan wadah tranformasi nilai denganciri-ciri amar ma’ruf nahi mungkar. 

 

Tradisi  Pondok Pesantren                       

Kajian mengenai tradisi pondok pesantren, juga terkait dengan karakteristik pondok pesantren. Berawal dari karakteristik pondok pesantren tersebut muncul berbagai macam tradisi. Amin Haedari dalam bukunya Masa Depan Pesantren; dalam Tantangan Modernitas dan Tantangan Komplesitas Global menjelaskan bahwa kyai sebagai salah satu elemen pokok dalam tradisi pesantren[15] merupakan cikal bakal yang mempunyai pengaruh kuat terhadap para santri dan masyarakat sekitarnya. Sudah menjadi tradisi bagi sebuah pesantren bahwa yang akan menjadi pengganti kyai adalah keturunan kyai atau menantu atau keponakan, kerabat dekat) yang berilmu tinggi, sehingga sewaktu-waktu meninggal kyai yang terdahulu, bisa langsung memimpin pesantren. Contoh lain adalah tradisi pesantren dimana santri ada yang menetap di pondok, ada juga yang pulang ke rumah masing-masing setelah habis jam belajar di pondok. Selain itu juga ada tradisi mamakiah yang dilakukan santri pondok pesantren, khususnya di pondok pesantren  Nurul Yaqin Ringan-ringan Pakandangan Kabupaten Padang Pariaman.

Dalam kegiatan mamakiah, santri datang ke rumah-rumah penduduk lalu mengucapkan salam, dan mengucapkan “basadakah lah mak/ni(bersedekahlah, Buk/Kak). Hal ini menurut penulis, mereka bukan meminta sedekah, tetapi menganjurkan orang bersedekah. Hal inilah yang menurut penulis mamakiah juga merupakan sarana dakwah bagi santri.

Dampak Tradisi Mamakiah

a.  Dampak Tradisi Mamakiah terhadap Internal Kelembagaan Pondok Pesantren Nurul Yaqin

1).  Dampak tradisi mamakiah terhadap santri

Dampak positif dan negatif muncul karena pengaruh cara pandang (paradigma) atau sisi pandang masing-masing berbeda-beda. Begitu juga dengan kegiatan mamakiah. Kegiatan mamakiah yang dilakukan santri pondok pesantren Nurul Yaqin memiliki dampak positif dan negatif bagi santri itu sendiri. Dampak positifnya kegiatan mamakiahadalah:

a)  Melatih santri bersifat sabar

b)  Melatih santri agar selalu rendah hati, tidak sombong, tawadhu’

c)  Mengembangkan dakwah Islamiyah di tengah masyarakat

d)  Membantu pemenuhan kebutuhan hidup

e)  Meningkatkan rasa syukur santri

Sedangkan dampak negatifnya adalah:

a)  Mengurangi motivasi belajar. Hal ini terlihat ketika santri belajar setelah pulang dari mamakiah/mamakie, sebahagian mereka cenderung lesu ketika belajar

b)  Mengurangi waktu istirahat santri.

c)  Nilai-nilai dakwah tidak dapat menyentuh semua lapisan masyarakat.

Karena pada umumnya santri mamakiah ke daerah-daerah yang jauh dari jangkauan masyarakat lainnya, sehingga tidak menjangkau kalangan modern di perkotaan. Namun berdasarkan wawancara penulis alasan mereka adalah bagi kalangan modern, mereka kadang tidak memberikan kesempatan santri mamakiah ke rumah, terbukti dengan pintu pagar yang tertutup rapat, bahkan ada juga mencaci maki santri yang datang ke rumahnya.

 

b.   Dampak tradisi mamakiah terhadap pimpinan

Pada dasarnya khusus untuk pondok pesantren Nurul Yaqin, dampak tradisi mamakiah tidak begitu terlihat terhadap pimpinan pondok hanya saja sedikit mengurangi beban pikiran pimpinan untuk memikirkan masalah santri yang berhubungan dengan dana, atau biaya hidup selama belajar di pondok pesantren. Tidak jarang orangtua santridatang kepada pimpinan untuk meminta keringanan, atau bahkan meminta pembebasan dari biaya-biaya di pondok pesantren. Jadi dengan adanya tradisi mamakiah ini sedikit membantu permasalahan tersebut.

Dampak negatifnya adalah ketika beberapa kalangan yang menganggap hal itu negatif, ini akan menjadi tantangan bagi pimpinan dan pengurus lainnya untuk dapat meminimalisir tradisi mamakiah. Jika saja pimpinan mampu membiayai dan memenuhi sepenuhnya kebutuhan santri secara keseluruhan, tentunya tradisi ini tidak perlu ada, Namun hal ini menurut penulis sedikit sekali kemungkinan terjadi.

 

c. Dampak mamakiah terhadap majelis guru

Dampak positif tradisi mamakiah terhadap guru sepertinya tidak begitu terlihat, hanya saja ketika beban pimpinan sudah berkurang, dengan sendirinya guru juga merasa tenang. Berbeda dengan pondok pesantren tradisional murni, (halaqah), sepulang mamakiah santri memberikan sebagian hasil mamakiah kepada guru, hal ini dimaksudkan untuk membantu biaya guru yang telah berjasa membina mereka selama belajar di pondok pesantren, atau juga dapat dikatakan sebagai ucapan terima kasih santri kepada guru.

Dampak negatifnya adalah ketika motivasi belajar santri banyak yang menurun, guru juga akan merasa tidak nyaman dalam mengajar. Sehingga proses pembelajaran tidak berjalan secara efektif dan efisian. Tentunya tujuan pembelajaran di lokal tidak dapat dicapai dengan baik.

 

d. Dampak Tradisi Mamakiah terhadap Eksternal KelembagaanPondok Pesantren

1) Dampak tradisi mamakiah terhadap pendidikan

a) Memudahkan sosialisasi pondok pesantren

Pada dasarnya melalui tradisi mamakiah ini akan memudahkan pondok pesantren dalam mensosialisasikan pendidikannya ke dunialuar pesantren.

b) Memperkuat identitas pondok pesantren

Masing-masing pondok pesantren sebagai lembaga pendidikan, mempunyai ciri khas yang unik dan menarik. Demikian juga pada pondok pesantren Nurul Yaqin, dengan adanya tradisi mamakiah ini menurut penulis juga akan menjadi suatu identitas, ciri khas tersendiri bagi pondok pesantren Nurul Yaqin, meskipun tidak semua orang memandang positif kegiatan ini.

c) Penilaian positif dan negatif

Di satu sisi, bagi sebahagian masyarakat yang memandang mamakiah sebagai kegiatan yang positif, akan memperbaiki citra pondok pesantren, namun sebaliknya bagi masyarakat yang memandang kegiatan mamakiah sebagai kegiatan kegiatan negatif, artinya buruk menurut mereka, maka hal itu akan berakibat burukterhadap citra pondok pesantren, akhirnya akan mengurangi minat masyarakat  yang   akan  menyerahkan  pendidikan  anaknya  ke pondok pesantren Nurul Yaqin.

2)Dampak tradisi mamakiah terhadap dakwah

Dampak positif tradisi mamakiah terhadap dakwah

a)  Menumbuhkan kesadaran beragama

b)  Memperluas wahana dakwah

3)Dampak tradisi mamakiah terhadap ekonomi

a)  meningkatkan pertumbuhan ekonomi masyarakat sekitar pondok    pesantren

b)  meningkatkan pendapatan jasa angkutan umum

4)Dampak tradisi mamakiah terhadap sosial dan budaya

Tradisi mamakiah ini sangat banyak berdampak pada kehidupan sosial kemasyarakat. Dengan adanya santri mamakiah ini akan dapat terlihat, seorang yang mempunyai jiwa sosial yang tinggi, dan mana yang tidak.

Masyarakat yang mempunyai jiwa sosial yang tinggi, akan menerima santri yang mamakiah dengan lapang dada, tanpa membedakannya dengan orang lain. Artinya dengan mamakiah akan dapat mempererat rasa sosial, merasakan penderitaan yang dialami orang lain. Namun hal ini tidak semua masyarakat yang mampu menjadikan sebagai pelajaran.

 

Kesimpulan

Berdasarkan pembahasan yang telah penulis paparkan dapat disimpulkan:

  1. Tradisi mamakiah merupakan kebiasaan yang dilakukan oleh santri pondok pesantren Nurul Yaqin dengan cara setiap pagi Kamis dan Jum’at santri pergi menuju daerah sekitar, dengan membawa “buntil” (karung tepung), dan kebiasaan tersebut masih tetap ada di pondok pesantren ini. Tradisi ini berawal dari sejarah murid Syekh Burhanuddin Yang berasal dari Siak, karena jauh dari kampung dan kehabisan bekal ketika belajar di Ulakan, pergimamakiah ke rumah-rumah penduduk sekitar surau/pesantren. Sejarahnya juga bisa dirujuk pada sejarah Nabi Musa mengangkat batu besar dengan izin Allah.Ada dua bentuk tradisi mamakiah, yaitu langganan, dan lepas/biasa. Mamakiah dilakukan santri dengan cara, baru sampai di depan rumah masyarakat, mengucapkan salam, lalu menyampaikan, basadakahlah mak/ni (bersedekahlah, Buk/ Kak). Pendapat tentang definisi mamakiah/mamakie adalah dua buah istilah yang pada dasarnya sama. Artinya kedua pendapat tersebut dapat klop dalam satu pengertian, bahwa mamakiah/mamakie merupakan suatu kegiatan santri (faqih) yang  kurang  mampu  dari  segi  ekonomi  pergi  ke  rumah-rumahmasyarakat  setiap  hari  Kamis  dan Jum’at untuk mengumpulkan sedekah untuk kelansungan pendidikan di pondok pesantren.
  2.  Tradisi mamakiah memiliki dampak positif dan negatif, yaitu:

(1) melatih kesabaran, mengembangkan sifat tawadhu’, tidak sombong,(2)mengembangkan dakwah Islamiyah di tengah masyarakat, (3) membantu pemenuhan biaya pendidikan, (4)meningkatkan rasasyukur, dampak negatif seperti; (1) mengurangi motivasi belajar, (2)mengurangi waktu istirahat, (3) nilai-nilai dakwah belum menyentuhke semua lapisan masyarakat, Sedangkan dampaknya terhadap majelisguru dan pimpinan tidak begitu terlihat. Hanya saja dengan telahterpenuhinya kebutuhan santri akan mengurangi permasalahanpimpinan, dan majelis guru dalam proses pembelajaran nya. Tradisimamakiah juga mempunyai dampak positif dan negatif terhadappendidikan, dakwah, ekonomidan sosial budaya. Dampak terhadappendidikan, seperti; (1)  memudahkan sosialisasi pesantren, (2)memperkuat identitas pesantren, (3) adanya penilaian positif dannegatif masyarakat. Dampak terhadap dakwah seperti; (1)menumbuhkan kesadaran beragama, (2) memperluas wahana dakwah.Dampak terhadap ekonomi seperti: (1) meningkatkan pertumbuhanekonomi masyarakat sekitar. serta jasa angkutan umum, (2) membantutugas-rugas negara dalam bidang perekonomian. Dampak terhadapsosial budaya seperti: (1) mempertinggi rasa sosial masyarakat. (2)membantu mempermudah masyarakat dalam kebiasaan beramal, (3) membantu orangtua/masyarakat yang kurang mampu. 4. Pondok pesantren Nurul Yaqin termasuk tipologi pondok pesantren tradisional (salafi) yang mulai berkembang menjadi pondok pesantren komprehensif, karena memperhatikan karakteristik, metode pembelajaran klasikal, sifat keterbukaan pimpinan dalam menerima masukan-masukan untuk perkembangan pondok pesantren.

 

DAFTAR KEPUSTAKA

Arikunto, Suharsimi, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek, Jakarta: PT. Rineka Cipta, 1996

Basri, Hasan, Dinamika Sistem Pondok Pesantren Salafiyah di Padang Pariaman, Tesis, Padang: 2004

Dhofier, Zamakhsyari, Tradisi Pesantren, Studi tentang Peranan Hidup Kyai, Jakarta: LP3ES, 1982

Faiqoh, Nyai Agen Pembaharuan di Pesantren, Jakarta: Kucica, 2003

Gazali, Bahri , Pesantren Berwawasan Lingkungan, Jakarta: Prasasti, 2004

Haedari, HM. Amin, dkk, Masa Depan Pesantren; dalam Tantangan Modernitas dan Tantangan Komplesitas Global, Jakarta: IRD Press, 2004

http://amperasalim.wordpressxom/2009/03/28/minangkabau-di-kedalaman-nagari-2/

Kafrawi, Pembaharuan Sistem Pendidikan Pondok Pesantren, Jakarta: PT. Indah Cemara, 1985

Malik, Imam, Muwatha, dikutip dari al-Maktabah al Syamilah, juz 6

Mastuhu, Dinamika Sistem Pendidikan Pesantren, Suatu Kajian tentang Unsu, dan Nilai Sistem Pendidikan pesantren, Jakarta: INIS, 1994

Moleong, Lezy J., Metode penelitian Kualitatif, Edisi Revisi (Bandung: Remaja Rosda Karya, 2004

Mujahidin, Endin, Pesantren Kilat Alternatif Pendidikan Agama di Luar Sekolah, Jakarta: Pustaka al-Kautsar, 2005cet. ke-1

Munawwir, Ahmad Warson, Kamus Al-Munawwir Arab-Indonesia Terlengkap, Surabaya: Pustaka Progressif, 1997, Cet. Ill

Muslim, Imam Abi Husain bin al-Hujaaj bin Muslim al-Qusyairy an-Naisaabury, Shahih Muslim, Juz 2 Beirut: Dar al-Fkir, [t. th]

Nasution, S., Metode Penelitian Naturalistik, Bandung: Tarsito, 1992 Spardley, James P, Penelitian Inkuiri, Jakarta: Rineka Cipta, 1980

Saydam, Gazali, Kamus Lengkap Bahasa Minang, Padang: Pusat Pengkajian Islam dan Minangkabau (PPIM) Sumbar, [t. th]

Usman, Husaini dan Pumomo Setiady akbar, Metodologi Penelitian Sosial, Jakarta: PT. Bumi Aksara, 2003

Ziemek, Pesantren dalam perubahan Sosial, terjemahan Butche B. Soendjojo, Jakarta: Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan masyarakat (P3M), 1996

 

 

 

 



[1]Faiqoh, Nyai Agen Pembaharuan di Pesantren, (Jakarta: Kucica, 2003), h. 153

[2]Mamakiah merupakan kebiasaan santri Pondok Pesantren Nurul Yaqin setiap hari Kamis dan Jum’at pergi ke rumah-rumah penduduk di berbagai daerah sekitar dengan membawa “buntil” (karung tepung), Selanjutnya ditulis mamakiah. Lihat jugaGazali Saydam. Kamus Lengkap Bahasa Minang, (Padang: Pusat Pengkajian Islam dan Minangkabau (PPIM) Sumbar, tth), h. 273

[3] Observasi bulan April sampai Mei 2009

[4] Zakirman, Wakil Pimpinan Pondok Pesantren Nurul Yaqin Ringan-ringan Pakandangan, di Pondok Pesantren Nurul Yaqin, wawancaraLangsung, 23 Mei 2010

[5] http://amperasalim.wordpress.com/2009/03/28/minangkabau-dikedalaman-nagari-2/

[6] Endin Mujahidin, Pesantren Kilat Alternatif Pendidikan Agama di Luar Sekolah, (Jakarta: Pustaka al-Kautsar, 2005), cet. Ke-1, h. 16

[7]Imam Malik, Muwatha’, Dikutip dari al-Maktabah al-Syamilah, juz 6

[8]Said al-Imam Muhammad ibn Isma’il al-Kahlani, Subulussalam, (Bandung: Multazam a-Thab’ wa al-Nasyar, t. th), juz 2, h 141

[9]Asyrafal Anam, Pengurus Pondok Pesantren Nurul Yaqin, wawancara, tanggal 23 Mei 2009

[10]Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek, (Jakarta: PT. Rineka Cipta, 1996), h. 243

[11] S. Nasution, Metode Penelitian Kualitatif, (Bandung: Tarsito, 1992), h. 5

[12] Husaini Usman dan Purnomo Setiadi Akbar, Metodologi Penelitian Sosial, (Jakarta: PT Bumi Aksara, 2003), h. 84

[13] Lezi J. Moleong, Metode Penelitian Kualitatif, Edisi Revisi, (Bandung: Remaja Rosda Karya, 2004), h. 175

[14] Kuntowijoyo, Paradigma Islam: Interpretasi untuk Aksi, (Bandung: Mizan, 1991), h. 255

[15] HM. Amin Haedari, dkk, Masa Depan Pesantren; dalam Tantangan Modernitas dan Tantangan Kompleksitas Global, (Jakarta: IRD Press, 2004), h. 46

Leave a Response

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>