FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PERILAKU KEBERAGAMAAN ANAK (Analisis Terhadap Anak yang Ayahnya Merantau)

FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PERILAKU KEBERAGAMAAN ANAK

 (Analisis Terhadap Anak yang Ayahnya Merantau)

Muhamad Yahya

 

Abstract

Minangkabau people have a culture of going far away for earning their lives. Generally, they go outside with their family, while some others leave their family in the village. This culture impacts on their family especially in exploring their children’s characteristics that live with single parent, even with their grandparents. As a result, many of them get bad development in their lives particularly in social behavior and religion application. In this article, the writer analyzes on the development of children whose fathers are going far away for earning their lives, but they show good social behavior and religion application. The data are taken from the children in the subdistrict of Suayan, Lima Puluh Kota Regency. The analysis includes prayers five times a day, reading Holly Quran, and social manner toward their friends and parents. In doing the research, the writer uses qualitative descriptive method.This research shows that the children whose fathers go far way for earning their lives, show good social manner and religion application. It is proved by their behavior in four aspects told above which are influenced by several factors. Those are the guidance of their mothers, grandparents, siblings as well as their teachers both at schools and at Qur’an learning centres, called TPA.

 

Key words: faktor yang mempengaruhi, perilaku keberagamaan, anak perantau

 

Pendahuluan

Dalam kehidupan nyata, orang tua memiliki otoritas yang demikian tinggi terhadap anak-anaknya, salah satunya adalah dalam menentukan agama anak, sehingga tidak aneh jika seseorang menganut agama Islam karena orang tuanya beragama Islam. Begitu juga dengan agama-agama lain seperti: Yahudi, Nasrani, dan Majusi. Hal ini ditegaskan oleh Rasulullah SAW dalam sabdanya sebagai berikut:

حدثنا آدم: حدثناابن أبى ذئب عن الزهري عن ابي سلمة بن عبد الرحمن عن ابي هريرة رضى الله عنه قال: قال النبي صلى الله عليه وسلم كل مو لود يولد على الفطرة فأبواه يهودانه أوينصرانه أو يمجسا نه … ( رواه البخاري)[1]

“ Adam bercerita kepada kami, ibnu Abu Dzi’bi bercerita kepada kami dari al-Zuhri dari dari Abu Salamah ibn Abd al- Rahman dari Abu Hurairah r.a ia berkata Rasulullah SAW bersabda: setiap manusia yang dilahirkan dalam keadaan fitrah. Maka kedua orangtuanyalah yang menjadikannya Yahudi atau Nasrani atau Majusi…” ( HR. al- Bukhari).[2]

 

Tidak hanya itu saja, bahkan sikap dan perilaku anak secara totalitas juga sangat ditentukan oleh sikap dan perilaku orang tua dalam memperlakukan anak sehari-hari. Hal ini disebabkan orang tua adalah contoh teladan yang utama bagi anak dalam bersikap dan berperilaku, baik perkataan dan perbuatan di lingkungan keluarga atau rumah tangga. Jelaslah bahwa eksistensi orang tua bagi anak tidak dapat digantikan oleh orang lain. Sebab antara orang tua dan anak memiliki ikatan emosional yang khas sehingga perannya sebagai orang tua tidak mungkin dapat diserahkan kepada orang lain.

Ajaran Islam tidak pernah membatasi umatnya dalam mencari nafkah kehidupan pada suatu tempat tertentu. Sebaliknya ajaran Islam memerintahkan umatnya bertebaran di muka bumi mencari karunia Allah SWT. Sebagaimana firman-Nya dalam surat al- jum’ah ayat 10:

فإذا قضيت آلصلو ة فآ نتشروا فى آلأرض وابتغوا من فضل الله واذ كروا الله كثيرا لعلكم تفلحون .

“Apabila telah ditunaikan sholat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung”.[3]

Menurut al- Qurthubi, ayat di atas mengandung perintah membolehkan. Sebagaimana juga firman Allah SWT:ا وإذا حللتم فصطا دو(dan apabila kamu telah menyelesaikan ibadh haji, maka bolahlah berburu (QS. Al- Maidah: 2). Maksudnya apabila telah menunaikan ibadah sholat, maka bertebaranlah dimuka bumi untuk berdagang dan bekerja memenuhi kebutuhan hidup.[4]

Sebagai kepala keluarga, seorang ayah tidak saja bertanggun jawab memenuhi kebutuhan jasmani anak-anak dan istrinya melalui pemberian nafkah sehari-hari. Lebih dari itu, peran seorang ayah juga mencakup pembentukan kepribadian, akhlak, bahkan juga perilaku keberagamaan anak di dalam keluarga. Sigmun Freud seperti dikutip Jalaluddin menjelaskan bahwa:

Bapak merupakan sosok yang memiliki peran penting dalam menumbuhkan agama pada anak. Melalui konsep father image (citra kebapakan), ia merintis teorinya tentang asal mula agama pada manusia. Menurutnya, keberagamaan anak sangat ditentukan oleh sang bapak. Tokoh bapak ikut menentukan dalam menumbuhkan rasa dan sikap keberagamaan pada anak. Dalampandangan anak, bapak menjadi tokoh panutan yangdiidolakan. Kebanggaan anak terhadap bapak demikian kuat dan berpengaruh, hingga ikut menumbuhkan citra dalam dirinya.[5]

Secara sederhana dapat dikatakan bahwa kehidupan seorang anak yang tinggal bersamasingle parent, baikkarena kematian salah seorang dari orang tuanya, perceraian ataupun karena bekerja/ belajar di tempat lain cenderung mempengaruhi kejiwaannya terutama ditinjau dari sudut pandang psikologi. Menurut Lifina Dewi, Psikolog dari Universitas Indonesia, dampak psikologis yang dihadapi anak dalamkeluarga single parent dipengaruhi oleh faktor kepribadian dan gender anak, serta bagaimana penghayatan si ibu terhadap peran yang dijalaninya. Pada anak-anak yang memiliki sikap tegar atau cuek mungkin dampaknya tidak terlalu terlihat, tetapi untuk anak yang sensitiv pasti akan terjadi perubahan perilaku, misalnya menjadi pemurung atau suka menangis diam-diam. Hal ini biasanya terjadi pada anak yang orang tuanya bercerai.[6]

Realitas kehidupan sosial masyarakat Minangkabau, seperti di kenagarian Suayan Kabupaten Lima Puluh Kota misalnya, tidak kurang 34 % dari 1.701 kepala keluarga mencari penghidupan dengan merantau. Sebagaian mereka merantau ke beberapa daerah di Sumatera dan Jawa, sementara sebagaian lainnnya ada yang merantau ke Malaysia dan ini adalah rata-rata.[7]

Tradisi merantau memang sudah melekat pada masyarakat Minangkabau sejak dahulu. Tidak hanya sebagai tradisi, bahkan kehidupan merantau sudah menjadi bagian dari karakter masyarakat Minangkabau itu sendiri. Di kenagarian Suayan Kabupaten Lima Puluh Kota, tradisi merantau tersebut sampai saat ini masih terlihat begitu kental. Uniknya, para perantau di Kenagarian Suayan pada umumnya adalah orang tua laki-laki (ayah) saja, sedangkan perantau di kenagarian lain pada umumnya orang tua laki-laki membawa serta anak dan istrinya untuk tinggal di rantau.

Diantara fenomena yang menurut penulis cukup mengkhawatirkan di Kanagarian Suayan khususnya adalah adanya kecendrungan kepala keluarga secara umum yang merantau memandang bahwa dengan mengirimkan sejumlah uang dari rantau berarti sudah memenuhi kewajibannya sebagai kepala keluarga. Mereka meninggalka instri dan anak-anak di kampung, meskipun anak-anak mereka masih bayi. Pada umumya mereka sangat jarang pulang ke kampung halamannya di Kenagarian Suayan, kecuali pada lebaran Idul Fitri misalnya, atau ketika ada anggota keluarga yang tertimpa kemalangan/musibah kematian. Bahkan ada yang bertahun-tahun di rantau baru dapat pulang kampung.

Disamping itu, terlihat pula kebanyakan anak-anak yang tinggal bersama ibu, sementara ayah mereka merantau,cenderung memperlihatkan sikap dan perilaku yang kurang terkontrol. Hal ini terutama terlihat pada anak-anak usia sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP). Diantara sikap dan perilaku anak yang dapat diidentifikasi di lapangan melalui observasi dan wawancara dengan sejumlah tokoh masyarakat adalah:

Pertama, ada kecendrungan anak kurang termotivasi untuk sekolah. Diperkirakan terdapat 10% dari keseluruhan anak usia SD dan SMP di kenagarian Suayan adalah putus sekolah. Berdasarkan Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) Nagari Suayan Kecamatan Akabiluru Kabupaten Lima Puluh Kota, jumlah anak yang sedang menjalani pendidikan pada tingkat Sekolah Dasar (SD) 705 orang, sedang pada tingkat SMP 459 orang.[8] Dengan demikian terdapat 1164 anak yang sedag menjalani pendidikan pada tingkat SD dan SMP. Sementara jumlah keseluruhan anak usia SD dan SMP di Kenagarian Suayan berjumlah 1280 orang. Hal ini berarti terdapat sekitar 128 anak yang putus sekolah. Adapun penyebab anak-anak putus sekolah tersebut sebagian besar bukan faktor ekonomi keluarga yang tidak mencukupi, justru penyebabnya lebih kepada anak itu sendiri, yaitu karena tidak ada lagi keinginan atau motivasi untuk belajar apalagi melanjutkan pendidikan. Sebagian mereka ada yang tidak tamat SD dan ada pula yang tidak tamat SMP.

Kedua, dalam berpenampilan, ada kecendrungan anak lebih mengedepankan pola hidup yang materialistis. Memiliki sepeda motor, menjadi sebuah prestise tersendiri dikalangan anak-anak remaja di Kenagarian Suayan Kabupaten Lima Puluh Kota. Sikap ugalan-ugalan mereka dalam berkendaraan cukup meresahkan masyarakat.

Ketiga, anak-anak yang putus sekolah memiliki kebiasaan menghabiskan waktunya untuk kegiatan-kegiatan yang tidak bermanfaat, misalnya mereka keluar magrib, nongkrong di jalan, bahkan seringkali mereka pulang kerumah menjelang waktu subuh.

Keempat, ada kecenderungan sebagian remaja khususnya mereka yang putus sekolah yang terlibat dalam pergaulan bebas antara laki-laki dan perempuan. Setidaknya pada tahun 2010 terdapat tiga kasus pasangan remaja yang dinikahkan karena pihakperempuan terbukti hamil di luar nikah.[9]

Kelima, kehamilan di luar nikah pada gilirannya berdampak kepada keterpakasaan menjalani kehidupan berumah tangga dalam usia yang relativ dini. Sebab mereka belum memiliki mata pencarian yang “tetap” untuk memenuhi kebutuhan diri dan juga keluarganya. Namun karena dipaksa oleh keadaan, pihak orang tua langsung memutuskan untuk menikahkan anaknya.[10]

Beberapa fenomena yang tampak di Kenagarian Suayan di adas, berkaitan erat dengan pola pendidikan anakorang tua single parent, yaitu orang yang melakukan tugas sebagai orang tua (ayah dan ibu) seorang diri, karena kehilanga/ terpisah dengan pasangannya baik karena bekerja atau belajar di kota/negara, kematian pasangan maupun karena perceraian.[11] Atau single parent adalah seseorang (ibu) yang menjalankan peran ganda, di satu sisi ia harus memenuhi kebutuhan psikologis anak-anaknya (pemberian kasih saying, perhatian, rasa aman) dan disisi lain ia pun harus memenuhi semua kebutuhan fisik anak-anaknya (kebutuhan sandang, pangan, papan, kesehatan, pendidikan, dan kebutuhan lain yang berkaitan dengan materi).[12]

Dari kedua pengertian di atas dapat dikatakan bahwa ibu atau isteri yang terpisah dengan suaminya karena bekerja atau merantau juga termasuk kategori single parent. Meskipun pada dasarnya ayah atau suami tersebut masih memberikan nafkah keluarga dari tempat ia merantau.

Di antara masalah tersebutseperti beberapa fenomena yang terjadi di Kenagarian Suayan. Namun dari sekian banyak anak yang orang tuanya merantau, ternyata ada beberapa orang anak, yang meskipun hidup bersama single parent, ternyata cukup berhasil dalam menampilkan perilaku-perilaku keberagamaan, di antaranya seperti: terbiasa melaksanakan sholat lima waktu, terbiasa membaca al Quran, terbiasa berperilaku baik dengan teman sebaya serta bersikap hormat terhadap orang tua. Hal ini secara tidak langsung menunjukkan keberhasilan orang tua single parentdalam mendidik dan membentuk perilaku keberagamaan anak-anaknya. Pertanyaannya adalah bagaimana sesungguhnya perilaku keberagaman anak yang ayahnya merantau? Mengapa orang tua single parent berhasil dalam membentuk perilaku keberagamaan anak-anaknya? Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan ini, maka diperlukan penenlitian secara lebih mendalam. Berarti keberhasilan orang tua single parent tersebut nantinya diharapkan dapat menjadi contoh bagi keluarga-keluarga lain yang ayah atau suaminya merantau dalam mendidik dan membentuk perilaku keberagamaan anak.

 

Metode Penelitian

Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif analitis, yaitu penelitian yang menggambarkan suatu peristiwa atau kejadian di lapangan sebagaimana adanya yang disertai dengan analisis. Dalam hal ini adalah berkaitan dengan perilaku keberagamaan anak yang ayahnya merantau di Kenagarian Suayan Kabupaten Lima Puluh Kota.

Pemilihan metode kualitatif dalam penenlitian ini karena penelitian ini juga berupaya mengkaji gejala-gejala sosial yang muncul di tengah-tengah masyarakat Kenagarian Suayan khususnya.

Sumber data dalam penelitian ini terbagi dua, yaitu: sumber data primer dan sumber data sekunder. Sumber data primer terdiri dari:

  1. Anak yang ayahnya merantau yang berdomisili di Kenagarian Suayan, usia SD dan SMP yang secara sengaja dipilih dan ditentukan setelah memperolah informasi dari masyarakat sekitar, guru TPA dan guru di sekolah mengenai perilaku anak yang bersangkutan secara umum dan perilaku keberagamaan khususnya.
  2. Ibu dari anak-anak yang ayahnya merantau yang tergolong berhasil dalam mendidik dan membentuk sikap serta perilaku keberagamaan anak.

Sedangkansumber data sekunder penelitian ini yaitu teman-temananak yang ayahnyamerantau, anggota keluarga lain seperti kakek/nenek.

Untuk memperoleh data yang akurat serta dapat dipertanggung jawabkan, dalam penenlitian ini digunakan alat pengumpulan data yaitu:

  1. Observasi, yaitu kegiatan mengamati secara langsung berbagai peristiwa yang terjadi di tempat atau lokasi yang menjadi objek penelitian.[13] Objek yang diamati dalam penenlitian ini adalah perilaku keberagamaan anak yang ayahnya merantau di Kenagarian Suayan, terutama berkenaan dengan pelaksanaan ibadah shalat lima waktu, kebiasaan membaca al Quran, pergaulan dengan teman sebaya dan perilaku baik terhadap orang tua. Di samping itu penulis juga mengamati tindakan-tindakan orang tua (ibu) serta anggota keluarga lainnya (kakek dan nenek) dalam membina perilaku keberagamaan anak dalam lingkungan keluarga.
  2. Wawancara, yaitu mengumpulkan data untuk memperoleh informasi langsung dari sumbernya.[14] Wawancara dalam penelitian ini dilakukan dengan anak-anak yang ayahnya merantau, ibu rumah tangga yang suaminya merantau, anggota keluarga terdekat serta pemuka agama dan adat di Kenagarian Suayan. Wawancara dilakukan secara terstruktur yang disertai dengan pedoman wawancara secara tertulis.
  3. Dokumentasi, yaitu berupa arsip-arsip atau dokumen-dokumen yang terkait dengan pembahasan, seperti Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) Nagari Suayan.

 

Teknik analisa data penenlitian ini dilakukan dengan langkah-langkah pengolahan data sebagai berikut:

  1. Reduksi data, yaitu memilah dan memilih data yang sesuai dengan penenlitian sehingga dapat memberikan gambaran yang tajam mengenai hasil pengamatan. Istilah reduksi data dapat disejajarkan maknanya dengan istilah pengolahan data (mulai dari editing, koding, hingga tabulasi data) dalam penelitian kuantitatif.
  2. Display data, yaitu menyajikan data dalam bentuk kelompok, organisasi atau bentuk penyajian lainnya, dengan demikian data lebih dapat dikuasai dan terlihat sosoknya secara utuh. Itu mirip semacam pembuatan table atau diagram dalam tradisi penelitian kuantitatif.
  3. Pengambilan kesimpulan. Data yang telah diperolah dan dipola dicarikan hubungannya, model dan tema sehingga peneliti dapat memperoleh kesimpulan.[15]

 

Hasil Penelitian

Berkenaan dengan faktor yang mempengaruhi perilaku keberagamaan (pelaksanaan ibadah sholat, mambaca al Quran, bergaul denganteman sebaya, dan perilaku baik pada orang tua) anak yang ayahnya merantau di Kenagarian Suayan, berikut ini dikemukakan temuan-temuan di lapangan, baik melalui wawancara maupun observasi.

 

Anak berinisial IW (12 tahun)

IW adalah anak sulung dari dua orang bersaudara. Saat ini ia duduk di kelas VI Sekolah Dasar 02 Sawah Padang.[16]Bersama IW tinggal kakek dan neneknya bersebelahan rumah. Kakek IW adalah seorang alumni MTI Candung Agam, Bukittinggi.[17] Sedangkan ibu IW (35 tahun) yang bekerja sebagai petani untuk menghidupi keluarganya adalah alumni MTI Tanyuah Simpang Batu Hampar Payakumbuh. Adapun ayah IW (40 tahun) bekerja sebagai buruh bangunan, sejak mudanya pernah merantau ke Malaysia, Pariaman, dan semenjak tiga bulan terakhir ke Sijunjung dan pulang ke rumah sekali dalam 20 hari.[18]

Sehubungan dengan perilaku ibadah sholat lima waktu IW, baca al Quran, bergaul dengan teman sebaya dan berperilaku baik pada orang tua, berdasarkan hasil observasi dan wawancara dapat diketahui bahwa perilaku IW lebih dipengaruhi oleh pendidikan yang diberikan oleh kakeknya di samping juga pendidikan dari ibunya sendiri, guru TPA dan guru di sekolah. Hal ini tampaknya lebih disebabkan peran kakek sebagai pengganti ayah yang sedang merantau bagi IW dalam lingkungan keluarga. Kebersamaan kakek bersama cucunya menjadikan ia mampu mengontrol dan memantau perkembangan perilaku cucunya tersebut.

Jika ditelusuri lebih jauh, ternyata latar belakang pendidikan pendidik, seperti ibu dan anggota keluarga terdekat lainnya di lingkungan keluarga turut mempengaruhi besarnya perhatian terhadap pembinaan ibadah sholat, baca al Quran, bergaul dengan teman sebaya, dan berperilaku baik pada orang tua bagi anak yang ayahnya merantau. Kakek dan ibu IW yang berlatar belakang pendidikan pesantren, tentunya sudah memiliki bekal pengetahuan agama yang akan ditanamkan kepada cucu dan anak-anaknya.

Pada hal sesungguhnya keadaan keluarga IW terbilang cukup sederhana dengan tingkat perekonomian sedang. Berarti keadaan ekonomi keluarga yang pas-pasan dan sederhana tampaknya tidak begitu mempengaruhi pola pembinaan orang tua terhadap pendidikan keberagamaan anak dalam keluarga.

 

Anak berinisial SF (12 tahun)

SF adalah anak bungsu dari tiga orang bersaudara. Saat ini SF duduk di kelas V Sekolah Dasar 05 Suayan Sariak.[19]Ibu SF (49 tahun) bekerja sebagai petani dan memiliki pendidikan terakhir SMP. Sejak muda suaminya (RA, 50 tahun) pernah merantau ke Malaysia, sialang, jambi, dan sekarang merantau ke Pariaman sebagai buruh bangunan pasca gempa yang melanda kota Padang dan sekitarnya pada tanggal 30 september 2009 lalu.[20]

Sehubungan dengan perilaku ibadah sholat lima waktu IW, baca al Quran, bergaul dengan teman sebaya dan berperilaku baik pada orang tua, berdasarkan hasil observasi dan wawancara dapat diketahui bahwa perilaku SF dipengaruhi oleh pendidikan yang diberikan oleh ibunya beserta salah seorang kakaknya dan juga guru-gurunya di TPA. Meskipun pendidikan ibu SF hanya sampai SMP, namun ia terbilang berhasil mendidik dan membimbing SF karena dibantu oleh kakak SF yang berlatar belakang pendidikan Madrasah Aliyah (MA). Dengan begitu, pengetahuan agama ibu SF yang minim dapat ditopang oleh kakak SF yang sedikit banyak tentu sudah memiliki basic ilmu agama.

 

Anak berinisial RA (12 tahun)

RA adalah anak sulung dari dua orang bersaudara. Saat ini RA duduk di kelas V Sekolah Dasar 04 Batu Baraguang. [21] Ibu RA (SW, 27 Tahun) adalah seorang petani. Ayahnya (SA, 29 Tahun) pernah merantau ke Jakarta dan enam bulan terakhir ini merantau ke Malaysia dan pulang kampung sekali dalam dua bulan. Sesuai dengan permit yang diberikan pemerintah Malaysia, setiap dua bulan sekali tersebut SA diberi kesempatan libur tidak lebih dari lima belas hari. Kesempatan inilah yang kadang-kadang dimanfaatkan oleh SA untuk pulang ke kampung halamannya di Suayan.[22]

Sehubungan dengan perilaku ibadah shalat lima waktu RA, baca Quran, bergaul dengan teman sebaya dan berperilaku baik pada orang tua, berdasarkan hasil observasi dan wawancara dapat diketahui bahwa perilaku RA banyak dipengaruhi oleh pendidikan dan perhatian yang diberikan oleh ibunya sendiri, kakeknya dan terkadang juga oleh ayahnya yang rata-rata pulang kampung dari merantau sekali dalam dua bulan. Namun demikian peran ibu dan kakek tampaknya lebih dominan dalam mendidik dan membimbing perilaku RA.

 

Anak Berinisial VY (12 Tahun)

VY adalah anak sulung dari dua orang bersaudara. Saat ini VY duduk dikelas lima sekolah dasar 01 Pakan Kamis.[23] Ibu VY (HW, 30 Tahun) sehari-hari bekerja sebagai petani, sedangkan ayahnya (FE, 36 Tahun) sejak muda sudah merantau ke Malaysia dan pulang kampung sekali dalam setahun kecuali jika ada kepentingan yang sangat mendesak berkaitan dengan urusan keluarga.

Sehubungan dengan perilaku ibadah shalat lima waktu VY, baca Quran, bergaul dengan teman sebaya dan berperilaku baik pada orang tua, berdasarkan hasil observasi dan wawancara dapat diketahui bahwa perilaku VY selaindipengaruhi oleh pendidikan ibunya, juga dipengaruhi oleh guru-gurunya di TPA. Hanya saja sikap ibu VY yang cenderung selalu mengingatkan VY untuk shalat, baca Quran, bergaul yang baik dan patuh pada orang tua direspon secara negative oleh VY karena menurut dia ibunya terlalu nyinyir. Hal ini tampaknya dipengaruhi pula oleh minimnya pemahaman ibu VY tentang perkembangan psikologis anak. Pemahaman tersebut tentunya berkaitan pula dengan tingkat pendidikan orang tua yang bersangkutan.

Berdasarkan wawancara, tingkat pendidikan ibu VY hanya sampai MTs, sedangkan ayahnya hanya sampai tingkat SD.[24] Hal ini memperkuat dugaan bahwa tingkat pendidikan semacam itu belum memberikan bekal yang baik untuk dapat memahami kondisi psikologis anak secara baik.

 

 

 

 

Anak berinisial YA (14 Tahun)

YA adalah anak kedua dari tiga orang bersaudara. Saat ini YA duduk di kelas VIII MTsN Koto nan Ampek Payakumbuh.[25] Sehari-hari ibu YA (SM, 38 Tahun) disamping membuka kedai kecil-kecilan di rumah juga bekerja sebagai petani. Sedangkan ayahnya (MR, 47 Tahun) saat ini sedang merantau di Malaysia dan pulang ke Suayan sekali dalam lima tahun.[26]

Sehubungan dengan perilaku ibadah shalat lima waktu YA, baca Quran, bergaul dengan teman sebaya dan berperilaku baik pada orang tua, berdasarkan hasil observasi dan wawancara dapat diketahui bahwa perilaku YA tidak lagi banyak dipengaruhi oleh ibunya maupun anggota keluarga lainnya, sebab YA lebih banyak menghabiskan waktunya di sekolah dan ditempat kos kecuali saat libur sekolah dan bulan Ramadhan. Sehingga interaksi dan komunikasi dengan keluarga sudah semakin jarang. Kendati demikian, pendidikan dan pembinaan perilaku YA yang ia terima pada saat tinggal di rumah ketika usia SD dan juga dari TPA telah menjadikannya terbiasa berperilaku baik sekalipun YA berada jauh dari mereka.

 

Anak berinisial RC (13 Tahun)

RC adalah anak pertama dari dua orang bersaudara. Saat ini RC duduk di kelas VII SMPN 02 Suayan.[27] Untuk memenuhi kebutuhan keluarganya, sehari-hari ibu RC (ZR, 36 Tahun) bekerja sebagai penjahit borongan di rumahnya. Sedangkan ayahnya (MU, 37 Tahun) saat ini sedang merantau di Pariaman bekerja sebagai buruh bangunan dan pulang ke Suayan rata-rata sekali dalam tiga bulan. Sebelumnya ayah RC juga pernah merantau ke Kapur IX, Jambi, dan Padang.[28]

Sehubungan dengan perilaku ibadah shalat lima waktu RC, baca Quran, bergaul dengan teman sebaya dan berperilaku baik pada orang tua, berdasarkan hasil observasi dan wawancara dapat diketahui bahwa perilaku RC dipengaruhi oleh adanya perhatian yang demikian besar dari gurunya di TPA. Meskipun saat ini RC tidak lagi belajar di TPA, namun perhatian gurunya tersebut masih seperti sebelumnya.

 

 

 

 

Faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku keberagamaan (sholat lima waktu, baca al Quran, berteman dengan teman sebaya, berperilaku baik pada orang tua) anak yang ayahnya merantau adalah:

 

SholatLima Waktu

Perilaku sholat lima waktu anak di Kenagarian Suayan yang ayahnya merantau banyak dipengaruhi oleh pendidikan, pembinaan dan perhatian yang diberikan oleh ibu dan anggota keluarga lainnya seperti: kakek, nenek dan kakak serta dipengaruhi pula oleh pendidikan dari guru-guru di TPA dan sekolah. Demikian itu tidak terlepas pula dari motivasi dan keinginan kuat anggota keluarga untuk memberikan pendidikan agama yang terbaik kepada anak ataupun cucu mereka sebagai bekal hidup di masa depan.

Selain di sekolah, pada umumnya mereka juga belajar di TPA setelah pulang sekolah. Sehingga pendidikan sholat yang mereka dapatkan dalam keluarga semangkin diperkokoh dengan pengajaran dari guru-guru TPA. Motivasi belajar di TPA tersebut tampaknya juga berasal dari keinginan dari dalam diri anak, bukan karena paksaan dari orang lain termasuk ibunya sendiri. Hal ini sesuai dengan apa yang dinyatakan oleh Jalaluddin bahwa ketika anak berada pada realistic stage (tingkat kenyataan) sebagai tingkatan kedua dari perkembangan perilaku keberagamaan anak ada semacam ketertarikan terhadap lembaga keagamaan di lingkungan sekitarnya. Perilaku keberagamaan yang mereka lakukan pada tahap ini masih bersifat ikut-ikutan sambil terus menerus mempelajarinya dengan penuh minat. Untuk itu, ketika anak berada pada tahap ini, orang tua sebenarnya tidak perlu susah-susah memaksa anak masuk TPA. Sebaliknya orang tua hanya memberikan dorongan-dorongan, membimbing dan mengarahkannya sekaligus membiasakan serta memberikan keteladanan.

 

Membaca al Quran

Perilaku membaca al Quran anak yang ayahnya merantau di Kenagarian Suayan dipengaruhi oleh:

1)  Kebiasaan anak membaca al Quran setelah magrib sangat dipengaruhi oleh peran ibu yang selalu menyuruh anaknya membaca al Quran pada waktu tersebut.

2)  Kemampuan anak membaca al Quran, selain didukung oleh peran ibu di rumah juga dikarenakan anakbelajar al Quran di luar rumah seperti TPA dan sekolah dan mendapat motivasi dari guru-gurunya di kedua lembaga tersebut.

3)  Kemampuan anak dalam membaca al Quran tidak semata-mata terlihat dari kepandaian mereka membaca al Quran tersebut dengan baik dan lancer. Lebih dari itu juga dibuktikan dengan keikut sertaan merekan dalam berbagi perlombaan, baik yang diselenggarakan di TPA maupun di sekolah, seperti: lomba hafalan ayat-ayat pendek dan MTQ.

 

Pergaulan anak dengan teman sebaya

Perilaku bergaul dengan teman sebaya oleh anak yang ayahnya merantau di Kenagarian Suayan juga tidak terlepas dari pengaruh pendidikan dan sikap ibu dalam memperlakukan anaknya serta kerakter anak itu sendiri. Dalam hal ini ibu tidak memperlakukan anaknya secara kasardan keras dan memberikan kebebasan kepada anaknya untuk bergaul dan bermain dengan teman-teman sebayanya. Sedangkan berkenaan dengan karakter anak, terlihat dari sikap supel dan keramahannya bergaul dengan teman-teman, suka membantu, memaafkan kesalahan teman, menjenguk bila ada teman yang sakit serta tidak membalas meskipun telah dibuat kesal oleh temannya.

 

Perilaku anak terhadap orang tua

perilaku anak yang ayahnya perantau terhadap orang tua (ibu) di Kenagarian Suayan juga tidak terlepas dari pembinaan dan pendidikan ibu melalui pembiasaan dan pendekatan-pendekatan emosional. Selain itu, sikap anak yang demikian itu tampaknya juga didorong oleh kesadaran anak bahwa ia masih banyak bergantung pada ibu serta kesadaran atas pengorbanan ibu terhadap dirinya sejak kecil. Turut pula dalam pembentukan perilaku anak terhadap orang tua (ibu) di sini yaitu adanya peran guru di TPA dengan cara memberikan nasehat-nasehat maupun arahan-arahan tentang perilaku yang mesti dilakukan oleh seorang anak terhadap orang tuanya.

 

KESIMPULAN

Berdasarkan hasil penelitian di atas, dapat disimpulkan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku keberagamaan anak di Kenagarian Suayan yang ayahnya merantau adalah pengaruh pendidikan, pembinaan dan perhatian oleh ibu dan anggota keluarga lainnya seperti: kakek, nenek dan kakak serta dipengaruhi pula oleh pendidikan dari guru-guru di TPA dan sekolah.Peranan timbal balik antara keluarga dan guru sangat mempengaruhi perilaku keberagamaan anak serta pencapaian tujuan pendidikan yang diharapkan.Demikian itu tidak terlepas pula dari motivasi dan keinginan kuat anggota keluarga untuk memberikan pendidikan agama yang terbaik kepada anak ataupun cucu mereka sebagai bekal hidup di masa depan.

 

DAFTAR PUSTAKA

Ancok, Jamaluddin dan Fuad Nashori Suroso, Psikologi Islam Solusi Islam Atas Problem-Problem Psikologi, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2004

 

An-Nahlawi, Abd. Rahman, Pendidikan di Rumah, Sekolah, dan Masyarakat, Jakarta: Gema Insani Press, t.th

 

al- Bukhari, Abu Abdullah Muhammad ibn Ismail, Shahih al- Bukhari, al- Riyadh: Bait al- Afkar al- Dauliyah li al-Nasyr wa al-Tauzi’, 1419 H/ 1998 M

 

Alvita, Okvina Nur, “Wanita Sebagai Single Parent dalam Membentuk Anak yang Berkualitas”,http://www.metrobalikpapan.co.id/index.php?mib=berita.detail&id=1954, diakses tanggal 14 april 2011

 

Arikunto, Suharsimi, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik, Jakarta: Rineka Cipta, 2001

 

Departemen Agama RI, al- Quran dan Terjemahnya, Semarang: Toha Putra, 1999

 

Hardiningtyas, Mundhi Sabda, “Defenisi SingleParent”,http://sumberbrita.blogspot.com/ 2009/07/definisi-single-parent.html, diakses tanggal 4 april 2011

 

Jalaluddin, Psikologi Agama Memahami Perilaku Keagamaan dengan Mengaplikasikan Prinsip-Prinsip Psikologi, Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2005

 

Koentjaraningrat, Beberapa Pokok Antropologi Sosial, Jakarta: Dian Rakyat, 1992

 

Mansyur,Mustafa, Berjumpa Allah Lewat Sholat, Jakarta: Gema Insani Press, 1996

 

Mar’t, Sikap Manusia: Perubahan Serta Pengukurannya, Jakarta: Balai Aksara Yudhistira dan Sa’adiyah, 1982

 

Mubarok, Achmad ,ai-Irsyad an-Nafsiy Konseling Agama Teori dan Kasus, Jakarta: Bina Reka Pariwara, 2002

 

Mubin dan Ani Cahyadi, Psikologi Perkembangan, Jakarta: Quantum Teaching, 2006

 

Nawawi, Hadari, Pendidikan dalam Islam, Surabaya: al-Ikhlas, 1993

 

Purwanti, M. ngalim, Ilmu Pendidikan Teoritis dan Praktis, Bandung: Remaja Rosdakarya, 1992

 

Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) Nagari Suayan Kecamatan Akabiluru Kabupaten Lima Puluh Kota Tahun 2010,

 

Susanto, Ahmad, Filosofi Sholat, Kajian Moral, Ekonomi, Kesehatan, Sosial, Politik danHukum, Jakarta: Dean Press, 1999

 

Tafsir, Ahmad, Ilmu Pendidikan dalam Perspektif Islam, Bandung: Remaja Rosdakarya, 2005

 

Ulwan, Abdullah Nashih, Pendidikan Anak dalam Islam, (terj.), Syaiful Kamalik, Semarang: Asysyita, 1993

 

Wirawan, Sarwono Sarlito, Teori-Teori Psikologi Sosial, Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2006



[1]Abu Abdullah Muhammad ibn Ismail al- Bukhari, Shahih al- Bukhari, (al-Riyadh: Bait al-Afkar al-Dauliyah li al-Nasyr wa al-Tauzi’, 1419H/1998 M), Juz I, h. 268

[2]Marzun R., Pendidikan Sepanjang Hayat dala Islam Internalisasi Nilai Kehidupan Melalui Alam, (Banda Aceh: Yayasan Pena, 2007), cet.ke-1, h. 16-17

[3]Departemen Agama RI,al- Quran dan Terjemahnya, (Semarang: Toha Putra, 1999), h. 11

[4]Abu ‘Abdullah ibn Ahmad ibn Abu Bakar al- Qurthubi, al- Jami’ li Ahkam al- Quran, ditahqiq oleh ‘Abdullah ibn ‘Abd al- Muhsin al- Turkiy, juz 20, (Bairut: Muassasah al- Risalah, 1427 H/ 2006 M), cet. Ke-1, h. 476

[5]Jalaluddin, Psikologi Agama, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2005), h. 218

[6]N. Widryarini, “Derita Anak Korban Perceraian”, 2005, www.kompass.com

[7]Dt. Majo Bosa Nan Kuning, Wali Nagari Suayan, wawancara, 11 November 2010

[8]Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) Nagari Suayan Kecamatan Akabiluru Kabupaten Lima Puluh Kota Tahun 2010, h. 9

[9]Dt. Majo Bosa Nan Kuning, Wali Nagari Suayan, wawancara, 01 Januari 2011

[10]Observasi di Kenagarian Suayan Kabupaten Lima Puluh Kota dan wawancara dengan beberapa tokoh masyarakat, tanggal 1 s/d 10 November 2010

[11]Mundhi Sabda Hardiningtyas, “Defenisi Single Parent”,http://sumberbrita.blogspot.com/ 2009/07/definisi-single-parent.html, diakses tanggal 4 april 2011

[12]Okvina Nur Alvita, “Wanita Sebagai Single Parent dalam Membentuk Anak yang Berkualitas”, http://www.metrobalikpapan.co.id/index.php?mib=berita.detail&id=1954, diakses tanggal 14 april 2011

[13]Sanafiah Faisal, Metodologi Penelitian Pendidikan, (Surabaya: Usaha Nasional, 2004), h. 204

[14]Ridwan, Metode danTeknik Menyusun Tesis, (Bandung: Al fabeta, 2004), h. 102

[15]Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik, (Jakarta: Rineka Cipta, 2001), h. 102

[16]Icha Wilma, Anak yang orang Tuanya Merantau, wawancara, 28 Mei 2011

[17]Khatib Dt. Bosa, Kakek IW (ulama Nagari Suayan), wawancara, 28 Mei 2011

[18] Misrawati, Ibu IW, wawancara, 28 Mei 2011

[19]Syamila Febriani, anak yang Orang Tuanya Merantau, wawancara, 29 Mei 2011

[20]Nusiasma, Ibu SF, wawancara, 29 Mei 2011

[21]Regita Anwar, anak yang orang tuanya merantau, wawancara, 4 Juni 2011

[22]Sri Wahyuni, orang tua RA, wawancara, 4 Juni 2011

[23]Vira Yoriska, anak yang orang tuanya merantau, wawancara, 5 Juni 2011

[24]Hendrawati, orang tua VY, wawancara, 5 Juni 2011

[25]Yori Angrian, anak yang orang tuanya merantau, wawancara, 11 Juni 2011

[26]Sari Madiar, orang tua YA, wawancara, 12 Juni 2011

[27]Regita Cahayani, anak yang orang tuanya merantau, wawancara, 18 Juni 2011

[28]Zulrefnis, orang tua RC, wawancara, 18 Juni 2011

Merantau jangan Lupa Rendang

Leave a Response

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>